“Polisi Konglomerat” Jalani Bisnis Cap Tikus Manado

 


Jakarta, KOMENTAR - Bisnis Aiptu Labora Sitorus yang kini dijuluki “polisi konglomerat” asal Papua, ternyata bukan hanya di bidang kayu dan BBM ilegal saja. Malah bisnis awal yang dilakoni Sitorus adalah menjadi pemasok captikus. Jaringannya dari Manado yang dijualnya di tanah Papua. Itu dilakukannya sejak tahun 1990 silam.  
Sitorus mengimpor captikus dari Manado, Sulawesi Utara, ke Sorong. Sebotol captikus di Manado dibelinya dengan harga Rp 3.000 pada waktu itu. Kemudian diangkut lewat kapal, di lapak-lapak Sorong harganya jadi Rp 20 ribu per botol. Dari bisnis ini, bapak lima anak itu mulai menimbun kekayaannya.
Saking sibuk mengurusi bisnis, pada tahun 2000-an, Sitorus tak pernah terlihat di kantornya. Baik saat dia bertugas di Polres Sorong maupun setelah dipindahkan ke Polres hasil pemekaran, Raja Ampat, pada 2006. Ia pernah mengajukan surat pengunduran diri dari kepolisian, tapi ditolak.

Dari temuan wartawan, Sitorus bahkan mencantumkan pekerjaan “wiraswasta” di kartu tanda penduduknya, meski masih mencantumkan profesi polisi di kartu keluarganya. “Perkara sepak terjang pak Sitorus di Sorong itu hanya asumsi,” kata Azet Hutabarat, pengacara Sitorus.
Ajun Inspektur Satu Labora Sitorus, yang diduga memiliki transaksi rekening bernilai sekitar Rp 1,5 triliun dan sejumlah rumah mewah, sedang diperiksa dalam kasus bahan bakar ilegal 1.000 ton dan pembalakan liar. Sitorus bertugas sebagai polisi selama sekitar 27 tahun. Pada sekitar pertengahan 2000, ia dipindahkan ke Raja Ampat. “Yang saya tahu, usahanya banyak di Kota Sorong,” kata Mochtar.
Salah satu rumah Sitorus di Tampa Garam, Rufei, Kota Sorong. Rumah dari kayu olahan itu besar, dikelilingi tembok setinggi 2 meter. Halaman rumah digunakan untuk menyimpan kayu olahan dan sebagai pabrik penggergajian. Karyawannya sekitar 50 orang. Saat ditemui di rumahnya, Sitorus tidak ada. “Katanya ke luar kota,” kata seorang pekerja di rumahnya.
Pusat Pelaporan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) mencatat transaksi tunai yang dilakukan Aiptu Labora Sitorus. PPATK berharap Labora berani mengungkap, dengan siapa saja dia bertransaksi.
“Karena yang cash itu banyak, dari Rp 500 juta-Rp 4 miliar. Itu nilai cash sekali transaksi,” jelas Ketua PPATK M Yusuf usai ‘Peluncuran Pedoman Multidoor untuk Pidana Korporasi’ di Hotel Le Meridien, Jalan Sudirman, Jakarta, Senin (20/05).
Yusuf berharap transaksi tunai itu bisa terungkap. Termasuk adanya pengakuan Labora dia menyetor ke sejumlah oknum di Polri. “Itu kami tunggu pengakuan Labora. Yang kami temukan ada banyak transaksi, banyak juga yang cash. Itu tergantung kejelian dan kecerdikan penyelidikan sendiri,” urainya. Yusuf hanya menjawab diplomatis saat ditanya dugaan aliran dana Labora, tersangka kasus penimbunan BBM dan kayu ilegal, ke institusi tertentu. “Kalau ada saya sampaikan ke penegak hukum atau publik,” tutupnya.
Fenomena rekening gendut milik Sitorus kini jadi sorotan kalangan DPR RI. Kalangan legislator pun meminta agar rekening gendut para oknum polisi setingkat jenderal juga diungkap.
“Pembersihan rekening gendut bintara akan lebih afdhol lanjut ke rekening gendut jenderal,” kata Ketua Komisi III DPR, Gede Pasek Suardika. Sementara, Pasek melihat kasus ini masih bisa ditangani oleh Kepolisian. Komisi III sebagai mitra kerja Polri akan terus mengawasi pengusutan kasus ini.
“Kita beri kesempatan polisi dan kita awasi bersama-sama agar setelah itu dikembangkan ke level yang lebih tinggi,” kata Pasek.
Pasek berharap Polri punya keberanian mengusut rekening gendut jenderal. “Ya kan itu yang ditunggu-tunggu publik,” tegasnya.
Sebelumnya Kompolnas juga punya harapan senada. Polisi diharapkan tidak berhenti setelah mengusut rekening gendut Aiptu Labora.
“Kompolnas berharap polisi jangan berhenti di kasus Aiptu Sitorus saja. Kalau ada kasus yang sama yang melanda para jenderal ya harus tetap lakukan pengusutan sepanjang ada bukti yang kuat,” ujar Komisioner Kompolnas, Hamidah Abdurahman.(tnc/dtc/sbr)

Add comment


Security code
Refresh

Written by Opex

News Most Viewed

Ulama Serang Banten ...

 


Manado, KOMENTAR - 45 alim ulama dan ...

ARTI SEBUAH KEMERDEKAAN ...

Baru-baru ini bangsa Indonesia merayakan ...

Walikota Disarankan ...

 


Manado, KOMENTAR - Pemerhati ...

Angouw: Tidak ada dalam ...

 


Manado,KOMENTAR - Penyertaan modal Mega ...

Tingkatkan kompetensi ...

Manado, KOMENTAR - Termotivasi meningkatkan ...

Eksekusi Lahan Sutanraja ...

 


PENGAMAT sosial dan ekonomi Sulut, ...

Locations

  • Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.  
  • (0431) 879799

Gallery

      DAS KOTOR: Wakil Walikota Manado Harley AB Mangindaan melakukan pemantauan ke DAS Tondano di Kecamatan Sario, kemarin. Dalam pemantauan, wawali menemukan tumpukan sampah di areal DAS tersebut. Belakangan, wawali semakin intens turun lapangan untuk memantau kebersihan dalam rangka penilaian tahap pertama Adipura. Sedangkan Camat Sario diminta lebih pro aktif memantau sektor kebersihan dan keamanan wilayah.(*)